Analisis fundamental merupakan salah satu analisis yang sering digunakan oleh investor menganalisis perusahaan. Dengan analisis fundamental, kita dapat melihat seberapa bagus kinerja perusahaan, seberapa sehat suatu perusahaan dilihat dari aset dan modalnya, berapa banyak utangnya, kondisi likuiditas perusahaan, dll. Kunci dari analisis fundamental selain tentunya kualitas perusahaan adalah laporan keuangan. Berikut ini saya ingin share mengenai beberapa rasio yang dapat digunakan untuk menganalisis laporan keuangan perusahaan, antara lain:
2. Rasio Aktivitas
3. Rasio Leverage
4. Rasio Profitabilitas
1. Rasio Solvabilitas
merupakan rasio yang menunjukkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban lancar (current liabilities). Rasio solvabilitas, antara lain:
-Current Ratio : rasio antara aset lancar (kas, piutang, persediaan, dll) dengan kewajiban lancar.
-Quick Ratio: rasio antara aset yang sangat liquid (seperti kas, piutang) dengan kewajiban lancar.
-Cash Ratio: rasio antara kas atau yang ekuivalen dengan kewajiban lancar.
Contoh lapkeu Q3 2020 emiten BSSR:
Piutang = $ 66,51jt
Persediaan = $ 30,293jt
Aset Lancar = $ 236,34jt
Kewajiban jangka pendek = $ 128,76jt
Maka,
Quick Ratio = (Aset Lancar - Persediaan)/Kewajiban lancar = ($236,34jt - $30,293jt)/$128,76jt = 1.60
Cash Ratio = Kas eqv/Kewajiban lancar = $105,24jt/$128,76jt = 0.82
Berapakah nilai yang "sehat" untuk rasio solvabilitas? Tidak ada standar baku, tapi tentunya makin besar rasio solvabilitas maka perusahaan tersebut semakin aman dari risiko liquiditas (kemampuan memenuhi kewajiban jangka pendek lebih bagus). Untuk kriteria screening, saya biasanya pakai Current Ratio & Quick Ratio > 1.
Walau begitu, tidak cukup melihat rasio saja. Kita juga harus melihat "kualitas" dari aset lancar. Jangan sampai piutang & persediaannya ternyata "tidak lancar". Pernah ada kasus dulu di salah satu emiten, piutangnya besar sekali, at the end malah tidak bisa tertagih, ujungnya perusahaan digugat pailit.
2. Rasio Aktivitas
merupakan rasio untuk mengukur tingkat efisiensi perusahaan dalam memanfaatkan kapital/sumber daya yang dimiliki. Rasio aktivitas, antara lain:
-Account Receivable Turnover (Rasio Perputaran Piutang) merupakan kemampuan perusahaan utk convert piutang ke kas.
ARTO = Penjualan / piutang rata-rata
-Inventory Turnover (Rasio perputaran persediaan) merupakan kemampuan perusahaan utk memutar persediaan.
ITO=HPP (Harga Pokok Penjualan) / persediaan rata-rata
-Total Asset Turnover -> efektivitas aset dalam kegiatan penjualan.
ATO=Penjualan/Total Asset
Contoh Lapkeu emiten SMSM tahun 2021:
| Lapkeu Selamat Sempurna tahun 2021 |
Piutang tahun 2020 = Rp 826 M
Piutang tahun 2021 = Rp 935 M
Persediaan tahun 2020 = Rp 720,5 M
Persediaan tahun 2021 = Rp 1.100 M
Penjualan tahun 2021 = Rp 4.163 M
Beban Pokok Penjualan (HPP) thn 2021 = Rp 2.825,5 M
Maka,
Account Receivable Turnover (Rasio Perputaran Piutang) = Penjualan 2021/((Piutang 2021+Piutang 2020)/2)
= 4163 / ((935 + 826)/2)
= 4,73 x
Inventory Turnover = Beban Pokok Penjualan 2021 / ((Inventory 2021+Inventory 2020)/2)
= 2825,5 / ((1100+720,5)/2)
= 3,1 x
Total Asset Turnover = Penjualan 2021 / Total Aset 2021
= 4163 / 3869
= 1,08 x
Bagimana cara interpretasi rasio aktivitas ini? Secara umum, makin tinggi rasionya artinya perusahaan semakin efisien dan lihai dalam memutar piutang, persediaan dan asetnya. Sebaiknya kita juga perlu membandingkan dengan:
1. kinerja di masa lalu (trend)
2. perusahaan di sektor yang sama. Tentunya suatu sektor akan memiliki tipe rasio akivitas tertentu.
Dengan komparasi tersebut, kemudian kita bisa menilai apakah ada penurunan/kenaikan kinerja dalam collecting piutang, apakah perusahaan sudah termasuk efisien dalam memanfaatkan aset di sektor, dll.
3. Rasio Leverage
merupakan rasio yang mengukur tingkat utang/pendanaan suatu perusahaan. Mengapa utang bisa disebut "leverage"? Lever kalo dalam bahasa Indonesia artinya pengungkit. Nah, utang dalam perusahaan itu bisa berfungsi sebagai "pengungkit" yang akan mendongkrak kinerja. Perusahaan yang modalnya kecil bisa memanfaatkan utang dari supplier, bank, dll utk menghasilkan keuntungan lebih besar.
Ingat persamaan dasar akuntansi
Harta = Utang + Modal
Rasio Leverage antara lain:
-Debt to Equity Ratio : rasio antara utang vs ekuitas (modal)
Sebagai contoh Lapkeu UNVR September 2022,
Utang (seluruh kewajiban termasuk utang ke supplier, dll) = Rp 14,51 T
Ekuitas = Rp 5,73 T
Maka,
Debt to Equity Ratio (DER) = 14,51/5,73 = 253%
Perusahaan dengan DER tinggi apalagi yang didominasi utang berbunga tentunya lebih mengkhawatirkan daripada perusahaan tanpa utang. Tapi, kita tidak boleh langsung judge perusahaan utang jumbo pasti jelek. Seperti namanya, Leverage Ratio ini harus digunakan untuk mengukur apakah utangnya sudah tepat guna atau tidak. Biasanya DER akan saya combine dengan rasio yang ke 4 yaitu rasio profitabilitas, seperti ROA & ROE. Dengan kombinasi ini, kita bisa tau apakah utang ini jadi "pengungkit" yang baik atau malah jadi "penyakit".
4. Rasio Profitabilitas
merupakan rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam mencetak laba. Beberapa rasio profatibilitas:
-Return on Asset (ROA)
rasio antara net income dengan asset.
ROA = Net Income / Asset
-Return on Equity (ROE)
rasio antara net income dengan ekuitas.
ROE = Net Income/Equity
-Gross Profit Margin (GPM)
rasio antara gross income (laba kotor) dengan pendapatan (revenue).
-Net Profit Margin (NPM)
rasio antara net income (laba bersih) dengan pendapatan.
Contoh Lapkeu UNVR Sep 2022
Ekuitas = Rp 5.730 T
Pendapatan usaha (9M) = Rp 31.539 T
Laba Kotor (9M) = Rp 14.945 T
Laba Bersih (9M) = Rp 4.611 T
Laba bersih annualized = Rp 6.148T
Maka,
RoA = Laba bersih/aset = 6.148/20.241 = 30.37%
RoE = Laba bersih/equity = 6.148/5.730 = 107.29%
Catatan:
Untuk RoE & RoA, laba bersih haruslah dengan timeframe 12 bulan. Jika referensi lapkeu kuartalan, bisa annualized atau TTM tergantung preferensi investor. Contoh di atas saya pakai laba annualized.
GPM = laba kotor/pendapatan = 14.945/31.539 = 47.38%
NPM = laba bersih/pendapatan =4.611/31.539 = 14.62%
Perusahaan yang memiliki ROA, ROE, GPM, NPM tinggi tentunya makin baik. Artinya, perusahaan sangat handal dalam mencetak laba. Contoh yang saya pakai di atas adalah perusahaan $UNVR. Jika dinilai dari rasio profitabilitas, sungguh luar biasa. ROE nya bisa > 100%, NPM > 10% .
Hubungan antara ROA & ROE, bisa kita hubungkan juga dengan salah satu leverage ratio yaitu DER. Contoh UNVR di atas. Dengan ROA 30% tapi kok bisa ROE > 100%? Jawabannya ada di DER. DER UNVR di atas adalah 253%. Artinya, UNVR sangat baik dalam memanfaatkan utangnya sehingga bisa mendongkrak laba secara signifikan. Efeknya adalah ROE bisa jadi 3.5 kalinya ROA. Utang benar-benar bisa jadi "pengungkit" di contoh UNVR ini.
Selain contoh perusahaan yang bisa memanfaatkan utangnya dengan baik untuk mencetak laba, berikut ini salah satu contoh perusahaan yang tidak bisa memanfaatkan utangnya. DER tinggi, RoA negatif, RoE nya tentunya makin negatif. Di case perusahaan ini, utang sudah bukan jadi "pengungkit" lagi, tapi lebih cocok disebut sebagai "penyakit". Utangnya sudah didominasi utang berbunga. Perusahaan ini dalam fase gali lobang tutup lobang.
| Contoh perusahaan dengan DER tinggi dan profitabilitas kecil |

Post a Comment